AFTER SHOCK : Ingat Pada Yang Lalu

Sebuah film hasil rekomendari seorang teman CITRA, yang menceritakan betapa pilihan hidup itu pahit, apalagi harus memilih yg berharga diantara yang berharga, bukan antara yang penting dengan yang usang. Pilihan yang tidak akan mungkin terucap, pilihan yang tidak gampang segampang menjawab “mau di dalam atau diluar”

After Shock, sebuah karya Feng Xiaogang pada tahun 2010 yang menceritakan tentang gempa dahsyat di kota Tangshan pada tahun 1976 yang menewaskan banyak orang, diantara para korban terseliplah drama haru ditengah keluarga Fang.

Sepasang suami istri yang bahagia dengan anak kembar mereka Fang Deng and Fang Da. Bahagia tidak akan pernah lama jika kita lengah, begitu juga yang terjadi dengan keluarga mereka. Musibah besar tiba-tiba datang, kota digoyang dan semua mulai hancur, rubuh dan berjatuhan. Yuan Ni dan suaminya mulai gusar, karena anak-anak mereka masih didalam rumah dalam keadaan tidur saat gempa besar itu terjadi.

Akhirnya semua hancur rata dengan tanah, melihat keadaan ini saya mulai ngilu dan miris mengingat apa yang terjadi di aceh 2004 silam, dimana saya juga berada ditengah-tengah amukan alam itu, saya juga merasakan kehilangan orang terdekat, dan saya juga kehilangan rumah. menonton film ini sungguh memainkan emosi dan batin saya. buat yang traumatis dengan tragedi tsunami 2004 silam, menjauhlah dari film ini.

Suami Yuan Ni meninggal tertimpa bangunan, dan anak-anak mereka juga sekarat terhimpit bangunan runtuh. disaat itulah mental dan hati seorang ibu di uji. di kedua sisi bangunan runtuh, disana ada kedua buah hati tercinta. Darah daging yang di lahirkan antara hidup dan mati, buah cinta yang di besarkan dengan segenap ketulusan hati. apakah ada seorang ibu yang bisa memilih antara keduanya?? Tetapi mau tidak mau Yuan Ni harus memilih, karena tidak mungkin menyelamatkan keduanya.

siapakah yang terpilih untuk hidup? bagaimana perasaan yang lainnya yang tidak dipilih oleh ibunya sendiri, yang seolah diinginkan mati oleh ibunya?? Sungguh pukulan batin yang tidak akan pernah bisa dilewati oleh manusia manapun di muka bumi ini, dibuang dan dicampakkan oleh orang tua yang melahirkannya.

AFTER SHOCK, Film drama penuh air mata wajib dan layak tonton buat anda yang anti meneteskan air mata. Film yang menurut saya sangat pantas mendapatkan penghargaan setingkat Oscar.

Antara Joki dan PSK di Tengah kemacetan Jakarta

Alhamdulillah akhirnya saya sampai di jakarta dengan selamat, diawali dengan naik bus bandara yang langsung mengantarkan saya ke terminal blok m. Saya tidak di jemput staff kantor,huwff tak apalah mungkin dengan begini bisa belajar mengenal jakarta dari awal. Sesampai di blok m saya memang sudah ada yang nungguin, yaitu temen kantor yang sudag dari tadi nungguin untuk mengantarkan saya ke kos-kosan didaerah cipete fatmawati, dan pertama menginjakkan kaki di kota ini saya langsung di suguhi kemacetan yang luar biasa biadab. Dan Fatmawati merupakan salah satu jalur macet fenomenal di jakarta, yeah dan ini pun hari jumat, lengkap lah penderitaan.

Berhubung besoknya sabtu, saya libur dan tidak masuk kerja, tetapi si bos nyuruh saya main-main ke kantor untuk melihat-lihat supaya senin nanti tidak kaget dengan suasana dan juga lingkungan kantor. Kebetulan kantor terletak tepat di depan Plaza Blok M salah satu dari 4 Mall yang ada di kawasan Blok M, dan pagi itu saya dikagetkan dengan adanya manusia-manusia pinggir jalan dengan beraneka ragam bentuk dan usia berusaha memanggil-manggil mobil yang lewat layaknya ingin di “booking” seperti para pekerja seks komersil. Terlintas di pikiran, apakah jakarta sebejat itu? pagi buta pelacur perkeliaran mencari nafkah? hebohnya lagi masa iya melacur bawa anak, bahkan ada yang sedang hamil, atau apakah kawasan pelacuran ini memang kawasan gabungan antara pelacur wanita dan pelacur pria? oh tuhan, kepala mulai mumet dengan semua terkaan konyol saya waktu itu.

saya pun berlalu kekantor dengan pemikiran yang masih sama seperti tadi, apakah jakarta sudah sebegitu menggelegarnya sampai praktek prostitusi tidak mengenal tempat dan waktu lagi??

Singkat cerita, saya mendapatkan penjelasan bahwa mereka adalah para jockey yang membantu para pengemudi untuk melalui jalur 3 in 1 yang di buat pemerintah jakarta untuk mengurangi kemacetan jalur-jalur tertentu. Tapi malah menciptakan kemacetan di jalur lainnya, bahkan menjadi dua kali lipat.

lagian apa gunanya jalur 3 in 1 jika bisa disiasati dengan menggunakan para joki ini? satu sisi bagus memang, dengan adanya peraturan itu, para pengemis bisa berkurang karena mereka beralih menjadi joki untuk hidup, tetapi tujuan awal untuk mencegah kemacetan sepertinya sudah gagal dan jauh panggang dari api.

semoga saja ada perubahan sistem dan juga penerapan sistem baru dikota yang sudah di ujung tanduk ini untuk berbenah diri mengakhiri segala macam protes dan carut marut urusan kemacetan yang sepertinya sudah tidak ada jalan keluar lagi selain mengubur kota ini hidup-hidup.

dan untuk para joki, saya memohon maaf kepada kalian yang sedalam-dalamnya karena telah berpikiran macam-macam, dan betapa bodohnya saya karena bisa berfikir sebego itu. suatu saat saya akan mencoba jadi joki, dan merasakan bagaimana rasanya jadi joki dipinggir jalan, dan mungkin akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya.