Suka Bumi Seksi

sekali Ngepost langsung dua, dan kebetulan menceritakan pengalaman perjalanan saya ke propinsi yang sama namun tempat dan momen yang berbeda. diawal dari rasa penasaran saya dengan salah satu kota di Jawa Barat yaitu Garut dan sukabumi. Semenjak saya jatuh cinta dengan Bandung, dua daerah ini adalah tempat yang harus saya kunjungi seumur hidup minimal sekali. Karena saya pencinta bahasa sunda, maka di benak saya Garut dan Suka Bumi adalah satu-satunya kota dengan penduduknya masih menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari, selain Citarik dan Pantai ujung genteng yang menjadi sasaran empuk saya kalau berkunjung ke Suka Bumi.

 

Pagi yang labil, kebetulan saya tidak lagi bekerja di perusahaan terdahulu. modal nekat dengan modal hanya 100ribu saya menuju sukabumi, target saya awalnya hanya ingin melihat suka bumi dari dekat. Alhamdulillah saya dibekali mulut yang gampang beradaptasi, mengenai penginapan saya tidak terlalu pusing, kecekatan saya berkomunikasi dengan gampang bisa menemukan rumah inap tampungan yang mau menerima saya sebagai tamu tanpa biaya sepeserpun. Dalam hati saya ketawa, modal nekat beneran ini.

Sepanjang perjalanan ke Suka Bumi benar-benar pengalaman yang luar biasa. Melihat pinggiran jalan yang sempit yang berakhir di terminal akhir Suka Bumi. Dengan modal beramah tamah dengan orang sekitar akhirnya saya punya kenalan baru seorang teman, namanya Wahyu. dia ajak kerumah untuk sekedar mandi sebelum melanjutkan petualangan dadakan dan nekat. Tapi sialnya, sore itu saya dapat telpon dari Jakarta untuk mengikuti Interview kerja di tempat baru esok lusanya, mau tidak mau besok pagi saya harus buru-buru menyiapkan berkas untuk persiapan wawancara. waktu singkat malam itu benar-benar saya manfaatkan untuk menuju kesebuah perkuburan cina, kebetulan daerahnya berada diatas bukit. dengan suasana dingin kota Suka Bumi, saya bisa menikmati malam singkat dengan menyaksikan betapa indahnya kota ini dari puncak buktit. Rasanya tak terbayarkan oleh apapun, lelah dan stress beberapa hari yang sempat saya alami karena dilema hilang seketika.

Terima Kasih Suka Bumi, saya akan kembali kesana untuk ber-arung jeram yang sempat tertunda. Yang pasti dalam waktu dekat.

Banduuuuungggg!!!!!!

Berawal dari ide gila teman yang dadakan mengajak liburan, tanggal 24 April 2011 mejeng di Plaza Semanggi dan berlanjut menyusuri tol cipularang dan akhirnya sampai kebandung. Aris, saya, usman dan delfi berangkat satu mobil sore sekitar jam 5, sampai ke kota kesukaan saya yaitu Bandung sekitar jam 8 malam. Kebetulan didepan Gedung sate sedang berlangsung pagelaran musik, dan perut pun kruyuk-kruyuk karena belum makan. Di tambah suasana hujan, kondisi menjadi semakin sejuk dan menambah rasa cinta saya akan kota Bandung.

selesai makan, kami pun menujuĀ alun-alun kota Bandung yang ternyata juga area kompleks Mesjid Raya Bandung. Awalnya saya kira, alun-alun kota itu semacam tempat nongkrong yang disajikan berbagai kehidupan malam, rupanya kegiatan tersebut berlangsung disekitar area Mesjidnya. Miris memang, tapi keadaan itu tidak menghambat kami untuk terus menikmati suasana malam kota Bandung.

Trus salah satu temen nyeletuk “eh kayaknya ga seru deh malam-malam gini ga mampir ke Dago…seru tuh liat komunitas malam disana” waaaaah…makin semangat nih, padahal udah larut banget tapi keinginan melihat kehidupan malam disana kembali memuncak. sesampai disana daerahnya tak seramai biasa, tapi ada beberapa komplotan genk motor lagi mejeng disana, dan kami pun menikmati suasana malam disana..

karena ke Bandung tanpa rencana dan persiapan, ini adalah kali pertama saya kesuatu daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya tanpa persiapan dan rencana. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur dimobil sambil desak-desakan. Keesokan paginya kami memutuskan ke daerah Dago Pakar atau Dago Atas, kebetulan salah satu teman kami punya kenalan di hotel Marbella Suites. Mandi Gratis dan dapat sarapan gratis ala hotel bintang 4 itu pengalaman yang patut saya contoh nantinya jika ingin berpetualang sendiri dengan modal menipis.

Akhirnya sebelum balik kejakarta, kami pun singgah diseputaran daerah FO disebuah tempat jajanan untuk membeli oleh-oleh buat teman lainnya yang ada di Jakarta. Berpergian secara dadakan itu menyenangkan. Sayangnya tidak ada satu orang pun yang berinisiatif membawa kamera. Tetapi rasa cinta saya akan Bandung semakin bergejolak, suatu saat nanti saya harus tinggal dan menetap disini mencari rizki. Kalau perlu sekalian menikahi orang Bandung sehingga saya punya keturunan orang Bandung.