Berawal dari ide gila teman yang dadakan mengajak liburan, tanggal 24 April 2011 mejeng di Plaza Semanggi dan berlanjut menyusuri tol cipularang dan akhirnya sampai kebandung. Aris, saya, usman dan delfi berangkat satu mobil sore sekitar jam 5, sampai ke kota kesukaan saya yaitu Bandung sekitar jam 8 malam. Kebetulan didepan Gedung sate sedang berlangsung pagelaran musik, dan perut pun kruyuk-kruyuk karena belum makan. Di tambah suasana hujan, kondisi menjadi semakin sejuk dan menambah rasa cinta saya akan kota Bandung.
selesai makan, kami pun menujuĀ alun-alun kota Bandung yang ternyata juga area kompleks Mesjid Raya Bandung. Awalnya saya kira, alun-alun kota itu semacam tempat nongkrong yang disajikan berbagai kehidupan malam, rupanya kegiatan tersebut berlangsung disekitar area Mesjidnya. Miris memang, tapi keadaan itu tidak menghambat kami untuk terus menikmati suasana malam kota Bandung.
Trus salah satu temen nyeletuk “eh kayaknya ga seru deh malam-malam gini ga mampir ke Dago…seru tuh liat komunitas malam disana” waaaaah…makin semangat nih, padahal udah larut banget tapi keinginan melihat kehidupan malam disana kembali memuncak. sesampai disana daerahnya tak seramai biasa, tapi ada beberapa komplotan genk motor lagi mejeng disana, dan kami pun menikmati suasana malam disana..
karena ke Bandung tanpa rencana dan persiapan, ini adalah kali pertama saya kesuatu daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya tanpa persiapan dan rencana. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur dimobil sambil desak-desakan. Keesokan paginya kami memutuskan ke daerah Dago Pakar atau Dago Atas, kebetulan salah satu teman kami punya kenalan di hotel Marbella Suites. Mandi Gratis dan dapat sarapan gratis ala hotel bintang 4 itu pengalaman yang patut saya contoh nantinya jika ingin berpetualang sendiri dengan modal menipis.
Akhirnya sebelum balik kejakarta, kami pun singgah diseputaran daerah FO disebuah tempat jajanan untuk membeli oleh-oleh buat teman lainnya yang ada di Jakarta. Berpergian secara dadakan itu menyenangkan. Sayangnya tidak ada satu orang pun yang berinisiatif membawa kamera. Tetapi rasa cinta saya akan Bandung semakin bergejolak, suatu saat nanti saya harus tinggal dan menetap disini mencari rizki. Kalau perlu sekalian menikahi orang Bandung sehingga saya punya keturunan orang Bandung.

