Dibenci secara tak langsung

Pernah ga sih berada diposisi dibenci oleh banyak orang sementara orang yang membenci mu itu tak pernah tau bahwa selama ini orang yang mereka benci itu juga termasuk dirimu sendiri? Bingung? baca kalimat sebelumnya berulang-ulang semoga kalian menemukan maknanya.

Si teman sedang cerita penuh semangat tentang kelakuan orang lain yang juga pernah kamu lakukan. mau membela diri tak mungkin. Ikutan ngomongin kok kesannya ga tau diri banget.

Mari kita rubah kalimat pertama di atas, mungkin bukan di benci, tetapi kurang disukai. Walaupun begitu tetap saja berada di posisi seperti itu ga enak. Coba deh sekali-kali ngobrolin keburukan temenmu sang perokok berat di depan orang tua mu yang juga seorang perokok. Berani? Eh, itu beda kasus ding. Walaupun rada mirip. hmmm….
Atau….ah sudah lah, selamat malam..Salam Super!!!

Maaf, tanda baca dan tata aturan menulis masih kacau, dan maksud serta tujuan menulis juga ga ada

Episode Baru!!

Kebebasan telah benar-benar saya raih beberapa tahun lalu. Tanpa halangan dan rintangan, semua yang saya inginkan telah tercapai. Tentunya dengan resiko dan konsekuensi yang juga akan saya terima. Sekarang babak baru telah dimulai setahun yang lalu, yaitu sejak memutuskan untuk kembali meneruskan study yang telah lama saya tinggalkan. Ternyata bukan hal gampang untuk memulai segala sesuatu yang sudah pernah dilakoni dan lalu terbengkalai karena banyak alasan. Apapun itu, akan saya lakukan demi sebuah janji.

Jatuh bangun dalam membangun kembali hidup yang sempat datang beberapa saat, dan itu tidak enak. Sangat tidak menyenangkan. Saya menyebutnya sebagai proses penemuan jadi diri, atau proses penemuan “Passion” yang selama ini sering digadang-gadangkan banyak orang. “Sudah ketemu Mas Passion -nya?” “Tentunya belum dong”. Itu sering terlintas dikepala, sebuah pertanyaan yang memperolok diri sendiri, yang akhirnya berujung padang perenungan semalam suntuk akan kehidupan apa yang akan saya cari.

“udah la kems, lanjutin aja dulu kuliahnya baru ntar coba “tempur” lagi nyari kerjanya, Emang situ mau saingan sama segambreng sarjana muda yang mulai menyebalkan itu?” – apa lagi pertanyaan yang ini. kadang merasa minder sendiri dengan “nama tanpa titel” ku ini. Sekarang malah ada judul baru untuk sinetron yang kejar tayang ini, “Berakhir di Interview”.

Sering rasa minder bermunculan tiba-tiba, yang terkadang menyita waktu ku dan menuntut untuk menyendiri. Terkadang seharian mendadak jadi sosok anti sosial yang enggan bertemu dengan banyak orang, lebih tepatnya orang yang telah saya kenal dengan baik, dan sebaliknya. Rasa seperti ini yang akhirnya membuat saya merasa hilang semangat untuk maju. Bukannya minder ga punya kemampuan, tapi sekarang adalah masa sulit untuk “melegalisasi” semua kemampuan yang saya miliki dengan selembar kertas berstempel yang membuat nama saya semakin panjang. Husni Fachrizal, S.E.Ak, sebuah nama yang sedang saya perjuangkan dalam beberapa tahun kedepan.

Pertanyaannya adalah “sanggupkah saya melanjutkan perjuangan ketitik finish? lalu sekarang bertarung pake apa nih? masa cuma pake pisau dapur aja nih?” Pertanyaan yang saya tujukan pada diri sendiri untuk dijawab sendiri.

Saya hanya berharap setitik sinar akan muncul dalam waktu dekat ini dan mengubah segala keadaan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Dan tentunya rasa pesimis yang selama ini sering muncul akan hilang seketika. Saya masih percaya kok kalau keajaiban itu masih ada dan selalu berharap kalau orang yang dihampiri itu saya, bukan orang lain. karena saya merasa saya adalah orang yang paling membutuhkan sebuah keajaiban itu ;)