Bu, aku rindu

Pada tanggal 22 Februari 2011, tanggal yang begitu membuat saya rindu akan ibu. Saat itu saya berada di pulau yang berbeda di negara yang sama. Tertulis serangkai cerita rindu akan ibu. Rindu yang teramat dalam, yang hanya bisa terbalaskan dengan sebuah pelukan hangat, kecupan mesra dan tatapan tulus darinya yang telah merawatku tanpq lelah. Tetapi rindu yang itu telah terobati. Detik itu juga saya menelpon ibu yang jauh, dan pura-pura bertanya tentang baju yang saya belikan.

Itu dulu, sebuah rindu yang telah tamat dengan balasan senyuman dan usapan mesra darinya. Iya, karena saya masih memiliki seorang ibu.

Tetapi sekarang rindu itu datang lagi. Tanpa diundang, dan tanpa kode, di saat sosok itu sudah tak berada disampingku lagi. Di saat beliau sudah beralaskan tanah dan tak bisa mengusapku lagi. Siapa yang akan mengobati rinduku ya Allah? Ibuku cuma satu dan telah kau ambil dari sisiku. Tangan siapa yang harus kupinjam untuk kucium? Kaki siapa yang harus ku raih untuk bersimpuh? Badan siapa pula yang ku ambil untuk ku dekap?

Bu, sudikah engkau datang malam ini dalam mimpiku? Aku tak pernah tahu kalau mimpi bisa mengobati rindu ini, bahkan untuk mulai memejamkan matapun aku tak yakin bisa. Tetapi paling tidak, ada sekian rindu yang terobati. Rindu yang selalu datang ketika malam tiba. Walaupun tak semua rindu, itu sudah cukup. Karena aku tak mungkin memintamu memberikan pangkuanmu untuk kutiduri seperti waktu dulu.

Bu, aku rindu. Rindu padamu

Selamat Malam, Duhai Kekasih

Lama rasanya tidak menyentuh halaman blog ini. Apa kabar? Semoga baik-baik aja. Tapi rada segan nulis lagi, takutnya ini blog udah mulai ada penghuninya, abis kelamaan ditinggalin tak terurus. Dan malam ini, berkat adanya aplikasi for mobile (agak pamer), eh bisa ngeblog lagi sambil gegoleran di kasur plus nonton bokep. Ahey, sungguh pribadi multitasking.

Entah kenapa malam ini, tiba-tiba teringat tentang “malam pertama”. Iya, malam pertama yang itu!! Yaitu malam saat dua makhluk saling belajar “menelanjangi” satu sama lain, cubit-cubitan, sampai plintir-plintiran. Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah ML sebelumnya (yah, ceritanya kan gituh…hi hi hi hi), tiba-tiba disatuin dengan orang lain sekamar, “dipaksa” berbuat gituan. Gak kebayang juga gitu, yang satu kecewa karena ga kebagian orgasme karena yang lainnya ga ngerti gimana tanda pasangan udah orgasme, sementara satunya lagi uda “cum” berkali-kali sampe gemeter lutut (dih fasihnya) (eh ini hasil browsing sih, kalo ga mana tau gue hi hi hi).

Trus, apa perlu tuh istilah “foreplay” dilaksanakan? Apa ga saling canggung? (ceritanya bedua dijodohin dan baru kenal beberapa hari sebelum ijab kabul). Mengenai hal ini, dulu saya pernah diceritain sama nenek-nenek dikampung saya, beliau sudah tua (yaialah). Jaman dulu kan emang beneran kayak kisah siti nurbaya. Hampir 60% lebih pasangan, nikahnya hasil perjodohan, tidak saling kenal. Nah, supaya malam pertamanya gak canggung, dan tau harus ngapain, disediakanlah seorang nenek-nenek lagi untuk mengajarkan pengantin baru ini. Beliau tidur diantara kedua pengantin ini, dan baru akan enyah dari kamar membara itu setelah si nenek yakin si lakik uda tahu dimana “sarangnya”. Nama profesi si nenek itu kalau ga salah “Peuganco” (Cmiiw). Nah, apa jadinya, kalau profesi nenek-nenek tadi masih diterapkan di jaman sekarang? Akankah terjadi threesome? (yakaliiii). Apakah pasangan jaman dulu segitu lugunya ya? Buat anak harus diajarin?

Mandiri (Mangkal Sendiri)

Aceh, daerah yang minim akan hiburan dan terlalu banyak aturan-aturan tak jelas yang hanya menguntungkan sebagian kaum. Di sini harus pintar-pintar cari hiburan untuk menghapus stres yang kian hari kian numpuk. Nongkrong salah satu ritual wajib sore atau malam hari bagi sebagian besar warga disini. Dan warung kopi adalah salah satu pilihan menarik untuk dilirik, selain cafe tentunya.

Jumat ini telah terjadi kesalahpahaman maksud dan rencana antara seorang cucu dengan neneknya. Bisa jadi si cucu salah dengar, atau neneknya yang berkelit mengundurkan acara yasinan di rumah menjadi minggu depan. Namun, keputusan telah diambil, ijin untuk tidak masuk kantor pun telah di tangan. Trus? Ngapain? Ngeram di rumah? ya ngga dong. Syukurnya walaupun Aceh masih tergolong salah satu propinsi tertinggal di Negeri yang kata orang kaya raya ini, masih ada satu fasilitas canggih yang mungkin belum dimiliki atau diterapkan di propinsi lain. Yap, apalagi kalau bukan fasilitas internet yang ada di segala penjuru negeri yang bisa nikmati secara “free” alias gratis. Hampir 90% cafe dan warung kopi di Aceh memiliki fasilitas internet gratis. Seolah itu menjadi syarat utama jika seseorang ingin memulai usaha per-kafe-an atau per-warung-kopian, kalau tidak ada internet maka siap-siap saja bakal sepi pengunjung.

Ya, seperti saya sekarang ini yang sedang dan memang hobi Mandiri atau Mangkal sendiri. Dengan modal kopi segelas 5000 atau Jus 7000 bisa berinternet ria sampe hayat dikandung badan, dan bebas berimajinasi dalam bentuk sebuah tulisan atau beberapa patah status di twitter. Tapi sayangnya ritual Mandiri ini tidak semua orang nyaman melakukannya. Ada sebagian orang berpendapat, mejeng sendiri itu kasian, kaya ga punya temen aja. Bagi sebagian lainnya kesedirian itu ngebosenin dan ga asik. Lebih enak cekakak cekikik sama temen dong rame-rame. YUP, untuk kondisi umum emang enak mejeng bareng temen, tapi bagi saya terkadang ritual “me-time” ngopi sendiri, atau ke pantai sendiri itu asik juga, toh rame-rame juga ntar masing-masing sibuk sama “Handheld” sendiri, apa bedanya dong? Tapi jangan jadi keterusan doyan menyendiri juga sih, selain ga baik untuk kesehatan ragawi (preet), tapi juga jiwa terancam terganggu, baik itu terganggu dengan permasalahan sosialnya atau terganggu dengan cemoohan orang tadi yang menganggap kita aneh ga punya temen, kemana-mana sendiri. Jadi pribadi mandiri juga bisa diterapkan di kehidupan para insan jomblowan dan jomblowati nih, ngeflirt jadi lebih “Khaffah” dan berjalan lancar, bhihihik. Kan kalo sendiri biasanya bisa lebih pol-polan dalam melancarkan jurus, kalo sama temen kan rada jaim (Lha?).

Nah, dengan mengingat betapa banyaknya manfaat menjadi pribadi yang “Mandiri” apa masih doyan sering-sering numpuk sama temen? sekali-sekali ga salah dong menikmati kesendirian dengan diri sendiri (Ribet).

Naruto!! oh Naruto!!!

Dulu waktu kecil-kecil, hari minggu pagi dari pukul 6 sampai pukul 11 adalah surga bagi semua anak kecil. Cukup ambil sarapan nasi goreng di dapur lalu ngangkang depan TV dengan se abrek film kartu yang siap memanjakan mereka semua. Mulai dari KBH RX sampai Sein Seiya, dari Sailormoon hingga Dragonball Z. Tetapi sekarang sepertinya hanya beberapa TV suasta yang masih memikirkan tontonan buat anak-anak di pagi hari. Itupun dengan durasi yang hanya satu atau dua jam.

Tetapi, bukan berarti sekarang tidak ada lagi film kartun yang bisa jadi hiburan bagi anak-anak. Bahkan makin banyak film kartu yang penuh akan makna. Tinggal pinternya kita dalam memilih tontonan buat adik atau anak kita. Dan usia bukan menjadi halangan untuk menonton film yang dasarnya disajikan untuk anak-anak. Bahkan ada beberapa judul film kartun yang jalan ceritanya cukup rumit dan hanya akan bisa di pahami oleh mereka yang sudah mulai beranjak dewasa.

Saya contohnya, yang sekarang sedang tergila-gila dengan sosok Naruto. Yaitu tokoh kartun dengan jalan cerita yang cukup berliku-liku. Tetapi sejauh ini, Naruto adalah salah satu film kartun yang layak di tonton menurut saya. Semangat dan rasa setia kawan disini sangat ditonjolkan dan harus sekuat mungkin untuk diperjuangkan. Naruto, Sakura dan Sasuke, tiga sahabat yang awalnya saling mendukung dan melindungi, akhirnya terpisahkan oleh ambisi masing-masing yang tidak dapat dibendung. Sasuke yang tergila-gila akan kekuatan super agar bisa melampaui naruto yang memiliki cakra tak terbatas akibat Kyubi yang tersegel didalam tubuh seorang Jinchuriki, yaitu Naruto sendiri. Kyubi adalah Biju terkuat dari 8 biju lainnya yang juga di segel di tubuh masing-masing Jincuriki lainnya. Sementara Sakura adalah perempuan yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri yaitu sasuke sejak lama, dan tanpa tahu ternyata Naruto menyukainya. Sementara naruto sendiri juga punya ambisi sendiri untuk menjadi seorang Hokage, yaitu peringkat tertinggi di sebuah clan yang diperoleh berdasarkan level kekuatan mereka masing-masing. dan Hokage adalah ninja terkuat di masing-masing desa dengan clan yang berbeda. Tiap Clan memiliki Kage-nya tersendiri, seperti Kazekage, Raikage, Mizukage, Tsucikage dll.

Untuk memperoleh gelar Kage, semua ninja harus melalui beberapa tahap level tes yaitu mendaftar menjadi  murid akademi ninja dan lulus dengan predikat Genin, yaitu Ninja kelas rendah yang hanya boleh melakukan pekerjaan ninja Level D, yaitu tugas sepele seperti nangkap kucing kabur, bersihin sekolah dan lain-lain. Biasanya Genin terdiri dari 3 orang dengan seorang pembimbing dari Level Jounin. Lalu ada tes lanjutan untuk memperoleh gelar Chuunin yang bisa membuat mereka menaikkan level tugas dan misi seorang ninja dari Level D ke Level C dan B. Lalu ada Jounin, yaitu ninja elite dengan Level tugas ninja di A dan S dengan kesulitan yang memerlukan teknik Ninjutsu dan Taijutsu yang tinggi. Lalu ada ANBU, yaitu ninja tersembunyi yang tugasnya juga sangat berbahaya. tugasnya adalah membunuh dan mereka tidak boleh memakai nama serta tidak boleh melepaskan topengnya supaya identitasnya tidak di ketahui. Salah satu ANBU yang membuka topengnya adalah Kapten Yamato yaitu sensei pengganti Kakashi untuk mengawasi Tim 7 yaitu tim Naruto. Nama asli Yamato adalah Tenzo. Masih banyak tokoh penting di Film ini yang nama-namanya itu akan teringat sendirinya akibat harus menghafal jalannya cerita film ini yang maju mundur. terkadang cerita masa lalu baru di bahas di Episode kedepannya, untuk menceritakan kenapa sebuah keadaan bisa tercipta.

Intinya, film ini layak tonton dan benar-benar bisa mengajari mereka yang masih kecil arti sebuah kesetiakawanan dan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu. Sampai sekarang pun ceritanya masih berlangsung dan belum selesai. Ada 220 Episode untuk babak perkenalan dan proses para ninja meraih gelar keninjaannya atau ANBU dan masih ada sambungan di “Shippuden” yang sudah berjalan sekitar 250 episode dan bisa di tonton secara online di NARUTOGET.com. Jadi ada total 470 Episode yang harus di tonton dari Awal :D .

Hati-hati kalau ingin mulai menonton, dijamin bakal ketagihan :D  

………!!!

Semenjak selesai dari sekolah SMA, saya mulai pisah kehidupan dengan kedua orang tua saya. Satu hal yang memang menjadi sebuah keinginan tetap, yaitu merantau. Bukan karena tak senang dekat dengan orang tua, tetapi ada satu prinsip yang dari dulu saya pegang tentang sebuah penilaian diri.

“Semulia-mulianya mereka yang berada di kampung halaman, jauh lebih dimuliakan mereka yang jauh dari kampung halaman”

Tidak berarti yang berada dikampung halaman tidak baik, tetapi rasa ditunggui pulang kampung itu melebihi dari apapun. Apalagi sang ibu dirumah siap menanti dengan segala macam masakan untuk anaknya tercinta yang sebentar lagi pulang kerumah. Walaupun kehidupan di rantau itu tidak jauh lebih baik dari kampung halaman sendiri. Beberapa kota besar seperti Medan dan Jakarta pernah terjamah untuk mengais segenggam rejeki. Sebuah pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan nilai rupiah. Namun, ibu dirumah dalam keadaan sakit-sakitan, rasanya tak cukup baginya hanya mendengarkan suara anaknya melalui telepon. Meninggalkan karir yang sedang dibangun demi Beliau yang lebih membutuhkan anaknya tetap berada disamping.

Namun tuhan sepertinya berkata lain, pengorbanan yang ku lakukan belum cukup, sehingga ibuku diambil kembali kepangkuanNya. Andai bisa ku bertanya apa mauNya? Genap sudah satu minggu ibunda pergi menghadap sang Khalik penciptanya. Rumah tak ada lagi ocehannya, sepi akan omelannya, tak ada yang membangunkan aku dipagi hari, atau menghubungiku jika belum pulang larut malam. Rasanya air mata yang bercucuran setiap kali memikirkannya atau melihat fotonya dirumah itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa pedih dihati.

Satu pelajaran penting yang bisa kuambil dari kejadian ini adalah sebuah kesetiaan. Sang ayah yang selama ini dikeluarga terkenal cuek, pendiam, dan terkesan tidak peduli serta hanya ingin membahas yang penting-penting saja. Jikapun ingin bercanda itu hanya terjadi atas pancingan sang ibu. Namun selama ibu kritis dan dirawat di Rumah Sakit, sebentar pun beliau tak mau meninggalkan ibu yang tertidur tak berdaya sejak Desember tahun lalu. Bahkan untuk mandi saja harus dipaksakan meninggalkan ruangan tempat ibu di Rawat. Setiap malam beliau mengelus-elus rambut ibuku hanya supaya sang ibu tertidur pulas dan bisa sembuh ceria esoknya. Memapahnya ke kamar mandi, sampai membersihkan kotoran ibuku. Sekarang rasanya ingin bunuh diri jika melihat ayah diam, seolah sedang berfikir juga, apakah pengorbanannya juga tidak cukup untuk menyembuhkan ibuku sehingga dia harus kembali ke Tuhannya?

7 hari sudah berlalu, keramaian pengunjung dirumah pun telah berakhir. Kesunyian seperti apa yang akan kami hadapi tanpa ibu dirumah akan segera kami nikmati bersama. Entah berapa banyak air mata lagi yang akan tumpah dirumah itu jika mengingat satu-satunya perempuan dirumah kami telah tiada. Entah sama siapa aku mengeluh jika aku terpuruk nanti dan membutuhkan usapan tangan ibu. Entah bagaimana cara mengekspresikan sebuah kebahagiaan yang kelak akan aku dapatkan,sementara tempat berbagi kebahagiaan itu telah pergi. Entah siapa yang akan peduli pada ku dan adikku nanti, sementara alasan orang-orang peduli padaku selama ini karena ibu disampingku. Entahlah…..

Aku cuma berharap, ibu bisa hadir disetiap mimpi ku. Bisa kan harapan ku dikabulkan? diantara setumpuk harapan lainnya, hanya ini yang saya mau untuk dikabulkan secepatnya dan sesering mungkin.

Semoga engkau istirahat dengan tenang ya bu, dan siksa kubur jauh dari mu sampai kiamat datang.

“Almarhumah Asniati binti Muhammad Zein”

Dibenci secara tak langsung

Pernah ga sih berada diposisi dibenci oleh banyak orang sementara orang yang membenci mu itu tak pernah tau bahwa selama ini orang yang mereka benci itu juga termasuk dirimu sendiri? Bingung? baca kalimat sebelumnya berulang-ulang semoga kalian menemukan maknanya.

Si teman sedang cerita penuh semangat tentang kelakuan orang lain yang juga pernah kamu lakukan. mau membela diri tak mungkin. Ikutan ngomongin kok kesannya ga tau diri banget.

Mari kita rubah kalimat pertama di atas, mungkin bukan di benci, tetapi kurang disukai. Walaupun begitu tetap saja berada di posisi seperti itu ga enak. Coba deh sekali-kali ngobrolin keburukan temenmu sang perokok berat di depan orang tua mu yang juga seorang perokok. Berani? Eh, itu beda kasus ding. Walaupun rada mirip. hmmm….
Atau….ah sudah lah, selamat malam..Salam Super!!!

Maaf, tanda baca dan tata aturan menulis masih kacau, dan maksud serta tujuan menulis juga ga ada

Episode Baru!!

Kebebasan telah benar-benar saya raih beberapa tahun lalu. Tanpa halangan dan rintangan, semua yang saya inginkan telah tercapai. Tentunya dengan resiko dan konsekuensi yang juga akan saya terima. Sekarang babak baru telah dimulai setahun yang lalu, yaitu sejak memutuskan untuk kembali meneruskan study yang telah lama saya tinggalkan. Ternyata bukan hal gampang untuk memulai segala sesuatu yang sudah pernah dilakoni dan lalu terbengkalai karena banyak alasan. Apapun itu, akan saya lakukan demi sebuah janji.

Jatuh bangun dalam membangun kembali hidup yang sempat datang beberapa saat, dan itu tidak enak. Sangat tidak menyenangkan. Saya menyebutnya sebagai proses penemuan jadi diri, atau proses penemuan “Passion” yang selama ini sering digadang-gadangkan banyak orang. “Sudah ketemu Mas Passion -nya?” “Tentunya belum dong”. Itu sering terlintas dikepala, sebuah pertanyaan yang memperolok diri sendiri, yang akhirnya berujung padang perenungan semalam suntuk akan kehidupan apa yang akan saya cari.

“udah la kems, lanjutin aja dulu kuliahnya baru ntar coba “tempur” lagi nyari kerjanya, Emang situ mau saingan sama segambreng sarjana muda yang mulai menyebalkan itu?” – apa lagi pertanyaan yang ini. kadang merasa minder sendiri dengan “nama tanpa titel” ku ini. Sekarang malah ada judul baru untuk sinetron yang kejar tayang ini, “Berakhir di Interview”.

Sering rasa minder bermunculan tiba-tiba, yang terkadang menyita waktu ku dan menuntut untuk menyendiri. Terkadang seharian mendadak jadi sosok anti sosial yang enggan bertemu dengan banyak orang, lebih tepatnya orang yang telah saya kenal dengan baik, dan sebaliknya. Rasa seperti ini yang akhirnya membuat saya merasa hilang semangat untuk maju. Bukannya minder ga punya kemampuan, tapi sekarang adalah masa sulit untuk “melegalisasi” semua kemampuan yang saya miliki dengan selembar kertas berstempel yang membuat nama saya semakin panjang. Husni Fachrizal, S.E.Ak, sebuah nama yang sedang saya perjuangkan dalam beberapa tahun kedepan.

Pertanyaannya adalah “sanggupkah saya melanjutkan perjuangan ketitik finish? lalu sekarang bertarung pake apa nih? masa cuma pake pisau dapur aja nih?” Pertanyaan yang saya tujukan pada diri sendiri untuk dijawab sendiri.

Saya hanya berharap setitik sinar akan muncul dalam waktu dekat ini dan mengubah segala keadaan menjadi lebih baik lagi kedepannya. Dan tentunya rasa pesimis yang selama ini sering muncul akan hilang seketika. Saya masih percaya kok kalau keajaiban itu masih ada dan selalu berharap kalau orang yang dihampiri itu saya, bukan orang lain. karena saya merasa saya adalah orang yang paling membutuhkan sebuah keajaiban itu ;)

Free is my middle name and Selangor is my next destination

Jalan-jalan memang hobiku sejak kecil, apalagi mempunyai orang tua dengan pekerjaan yang berpindah-pindah. Baru lahir saja aku dibawa oleh kedua orang tua ku ke Banda Aceh, lalu memasuki Sekolah Taman Kanak-kanak ayahku dipindahkan ke Lageun yang merupakan salah satu daerah di Kabupaten Aceh Barat (sekarang memasuki bagian daerah Aceh Jaya setelah pemekaran wilayah). lalu 4 tahun disana barulah ayah ku dipindahkan ke Ibu kota Aceh Barat yaitu Kota Meulaboh yang merupakan salah satu kota kabupaten terindah di pantai barat Pulau Sumatera.

Tahun lalu, saya memiliki kesempatan untuk jalan-jalan dan menyusuri beberapa daerah yang ada di Negara Tetangga terdekat indonesia, yaitu Malaysia. Namun waktu seminggu tidak cukup untuk menyisir keseluruh pelosok negeri itu. Genting Highland, Kampung Kuantan dan Hutan Lipur Kanching merupakan tempat yang menjadi Favorite saya tahun lalu.

lalu terdengar kembali kabar jika tahun 2011 My Selangor Story membuka kesempatan untuk saya jalan-jalan gratis dengan modal menulis blog? Dapat hadiah ribuan ringgit? bertemu dengan puluhan teman blogger dari negara lain? lalu juga berkesempatan mengenal budaya malaysia terutama di negara bagian terkaya di Kerajaan Malaysia yaitu Selangor? siapa yang tidak mau?.

Dengan latar belakang hobi yang suka jalan-jalan dan suka mengumbar sesuatu ke teman-teman, saya adalah orang yang tepat untuk dipilih menjadi salah satu kandidat “My selangor story’s top 30 blogger” untuk tahun ini. mengumbar yang tak penting saja suka, apalagi mengumbar keindahan Selangor. Batu cave dan beberapa tempat lainnya belum sempat saya kunjungi di malaysia, mungkin dengan adanya kompetisi blogger “My Selangor Story” saya memiliki kesempatan untuk mencicipi sisi lain dari selangor, dan juga menjadi pembelajaran penting bagi negara saya sendiri untuk menjadikan Pariwisata sebagai identitas bangsa dan pengerat tali persaudaraan antar bangsa.

Untuk menjabarkan tempat yang harus dikunjungi diselangor itu tak cukup hanya dengan 500 kata, melainkan dengan kegiatan kunjungan serta menceritakan kembali apa yang telah dirasakan, dan dilihat langsung. Dan hanya dengan menjadi kandidat di “My Selangor Story 2011″ saya baru bisa menggambarkan bagaimana Selangor itu kepada Negara saya sendiri Indonesia. apalagi dengan kegiatan seperti ini bisa mempererat hubungan bilateral Malaysia dan Indonesia kedepannya nanti.

Nantikan di Posting selanjutnya setelah saya mengecap indahnya Selangor. semoga akan menjadi kenangan terindah dan membuat saya makin merasa ingin selalu mengunjungi Malaysia.

*Leave your comment*

*Follow my twitter @FachrizalH and ask me about Selangor* 

Suka Bumi Seksi

sekali Ngepost langsung dua, dan kebetulan menceritakan pengalaman perjalanan saya ke propinsi yang sama namun tempat dan momen yang berbeda. diawal dari rasa penasaran saya dengan salah satu kota di Jawa Barat yaitu Garut dan sukabumi. Semenjak saya jatuh cinta dengan Bandung, dua daerah ini adalah tempat yang harus saya kunjungi seumur hidup minimal sekali. Karena saya pencinta bahasa sunda, maka di benak saya Garut dan Suka Bumi adalah satu-satunya kota dengan penduduknya masih menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari, selain Citarik dan Pantai ujung genteng yang menjadi sasaran empuk saya kalau berkunjung ke Suka Bumi.

 

Pagi yang labil, kebetulan saya tidak lagi bekerja di perusahaan terdahulu. modal nekat dengan modal hanya 100ribu saya menuju sukabumi, target saya awalnya hanya ingin melihat suka bumi dari dekat. Alhamdulillah saya dibekali mulut yang gampang beradaptasi, mengenai penginapan saya tidak terlalu pusing, kecekatan saya berkomunikasi dengan gampang bisa menemukan rumah inap tampungan yang mau menerima saya sebagai tamu tanpa biaya sepeserpun. Dalam hati saya ketawa, modal nekat beneran ini.

Sepanjang perjalanan ke Suka Bumi benar-benar pengalaman yang luar biasa. Melihat pinggiran jalan yang sempit yang berakhir di terminal akhir Suka Bumi. Dengan modal beramah tamah dengan orang sekitar akhirnya saya punya kenalan baru seorang teman, namanya Wahyu. dia ajak kerumah untuk sekedar mandi sebelum melanjutkan petualangan dadakan dan nekat. Tapi sialnya, sore itu saya dapat telpon dari Jakarta untuk mengikuti Interview kerja di tempat baru esok lusanya, mau tidak mau besok pagi saya harus buru-buru menyiapkan berkas untuk persiapan wawancara. waktu singkat malam itu benar-benar saya manfaatkan untuk menuju kesebuah perkuburan cina, kebetulan daerahnya berada diatas bukit. dengan suasana dingin kota Suka Bumi, saya bisa menikmati malam singkat dengan menyaksikan betapa indahnya kota ini dari puncak buktit. Rasanya tak terbayarkan oleh apapun, lelah dan stress beberapa hari yang sempat saya alami karena dilema hilang seketika.

Terima Kasih Suka Bumi, saya akan kembali kesana untuk ber-arung jeram yang sempat tertunda. Yang pasti dalam waktu dekat.

Banduuuuungggg!!!!!!

Berawal dari ide gila teman yang dadakan mengajak liburan, tanggal 24 April 2011 mejeng di Plaza Semanggi dan berlanjut menyusuri tol cipularang dan akhirnya sampai kebandung. Aris, saya, usman dan delfi berangkat satu mobil sore sekitar jam 5, sampai ke kota kesukaan saya yaitu Bandung sekitar jam 8 malam. Kebetulan didepan Gedung sate sedang berlangsung pagelaran musik, dan perut pun kruyuk-kruyuk karena belum makan. Di tambah suasana hujan, kondisi menjadi semakin sejuk dan menambah rasa cinta saya akan kota Bandung.

selesai makan, kami pun menuju alun-alun kota Bandung yang ternyata juga area kompleks Mesjid Raya Bandung. Awalnya saya kira, alun-alun kota itu semacam tempat nongkrong yang disajikan berbagai kehidupan malam, rupanya kegiatan tersebut berlangsung disekitar area Mesjidnya. Miris memang, tapi keadaan itu tidak menghambat kami untuk terus menikmati suasana malam kota Bandung.

Trus salah satu temen nyeletuk “eh kayaknya ga seru deh malam-malam gini ga mampir ke Dago…seru tuh liat komunitas malam disana” waaaaah…makin semangat nih, padahal udah larut banget tapi keinginan melihat kehidupan malam disana kembali memuncak. sesampai disana daerahnya tak seramai biasa, tapi ada beberapa komplotan genk motor lagi mejeng disana, dan kami pun menikmati suasana malam disana..

karena ke Bandung tanpa rencana dan persiapan, ini adalah kali pertama saya kesuatu daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya tanpa persiapan dan rencana. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur dimobil sambil desak-desakan. Keesokan paginya kami memutuskan ke daerah Dago Pakar atau Dago Atas, kebetulan salah satu teman kami punya kenalan di hotel Marbella Suites. Mandi Gratis dan dapat sarapan gratis ala hotel bintang 4 itu pengalaman yang patut saya contoh nantinya jika ingin berpetualang sendiri dengan modal menipis.

Akhirnya sebelum balik kejakarta, kami pun singgah diseputaran daerah FO disebuah tempat jajanan untuk membeli oleh-oleh buat teman lainnya yang ada di Jakarta. Berpergian secara dadakan itu menyenangkan. Sayangnya tidak ada satu orang pun yang berinisiatif membawa kamera. Tetapi rasa cinta saya akan Bandung semakin bergejolak, suatu saat nanti saya harus tinggal dan menetap disini mencari rizki. Kalau perlu sekalian menikahi orang Bandung sehingga saya punya keturunan orang Bandung.