Pemberian

semalam, after blogging in my room, myfriend call me to going out for dinner. Hmmm ok2 aja sih, walaupun baru aja makan tapi ya sudah lah.
Cuma 15 menit sampai deh di kantor ibu2 ( panggilan buat temen gue soanya dia perempuan) dengan kesiapan di depan kantor yang tak seberapa itu di atas selokan besar mereka menunggu. ga pake nunggu lagi karena mereka pun ingin segera menyingkir dari kantor  terkutuk itu, dan mencari tempat makan yang enak di banda aceh dan ternyata terpilihlah tempat di seputar daerah neusu yang beberapa bulan lalu kami sempat singgah dan ternyata makanan nya lumayan enak. Ibu2 memesan nasi Goreng dan aku memesan sate goreng eh salah sate sapi maksudnya.

Pembicaraan yang tadinya mengenai kantoran dan pemindahan ini itu akhirnya lari ke masalah wanita2 yang mau di tiduri Oknum Tn* hihihih…ga nyambung sih tapi begitulah komplotan kami yang selalu membicarakan banyak hal dan semua tidak ada keterkaitan satu sama lain (komplotan yang aneh). Dan beberapa menit kemudian, sedang enak2 nya Gosip dan makin hot, Handphone ku bunyi..tit trit..tri tit tit tit….(maklum Monocrome punya)
” hallo hallo hallo…ada apa li ??”
” dimana nich ??” Oly said
” Gi makan Buk..”
” dimana makanya, Oly Juga udah lapar ne mau makan”
” di neusu li, t4 yang kita makan sate itu yang asap nya mengepul minta ampun, sama Tini N dian Juga nich”
” oh OK, li tau t4 nya, li kesitu sekarang ya? pesan terus nasi goreng ayam satu”
Tutttttttttttttttttttttttt…….

yach di putusin, dasar Tuh anak. tapi tak apa lah, oli pun datang dan pembicaraan di mulai lagi, seperti biasa tentang “orang lain” hahahhaa….
dan gak sengaja mereka menyinggung masalah kehidupan, baik di aceh, di indonesia bahkan di luar negeri yang katanya sudah tidak “bermoral” hmmm… ok ok..sampai kemasalah penampilan yang menurut mereka ga penting untuk mengeluarkan duit banyak hanya untuk membeli busana atau pakaian yang bentuknya mungkin sama dengan merek lain tapi harus menghambur2kan uang hanya untuk sepotong Gucci, sehelai versace, atau bahkan sebotol Dolce and gabbana, tapi itu lah yang terjadi di sebuah novel karangan Fradhyt Fahrenheit tentang 5 orang sahabat yang terikat dan hampir menghancurkan persahabatan mereka karena mencintai pria yang sama. mereka yang merupakan para sosialita, fashionita, pebisnis, model, seniman film dan agency advertising serta kaum metro seksual yang hidup dengan penuh glamor dan seolah2 palsu dan semua itu ada di Beauty for Killing yang kesemua teman ku tidak menyukai buku itu karena mereka menganggap hidup itu simple and make it simple, ga perlu pake baju harus ber merek kan buatan italy, toh baju tetap lah baju yang melekat di badan yang melindungi dari dingin. Dan kesemuanya itu sangat bertentangan dengan pemahaman ku, mungkin aku sekarang tidak memiliki kemampuan seperti para sosialita di dalam buku itu, tetapi jika kemampuan ku ada, pemikiran ku pun akan sama seperti mereka para sosialita yang mengukur kehidupan dari merek tanpa memunafikkan diri, aku bangga dan sangat merasa pede ketika yang melekat di badan adalah buatan pada designer dunia, tapi itu lah dunia tanpa keberagaman tidak akan indah. dan buku itu pun menjadi milik ku, yang tadi nya dimiliki oleh seorang teman, yang tidak menyukai keglamoran hidup.

Terkadang pemikiran picik orang muncul, apa guna nya memakai barang mahal di tubuh yang pada hakikatnya memiliki fungsi yang sama dengan benda lainnya ? bagi ku itu adalah suatu kewajaran ketika kita bertindak sebagai public figure, karena public para pelaku mendapat kan uang, jadi sangat tidak sopan ketika uang yang mereka dapat hanya di habiskan untuk membeli baju dengan penampilan yang biasa. tapi sayang, keinginan ku belum tercapai dan terpenuhi, tapi itu merupakan sebuah keinginan yang begitu banyak jalan untuk mewujudkannya. tinggal Memutuskan pilihan jalan manakah yang harus di tempuh untuk sebuah tujuan hidup.

.:: Kemal ::.

beabeautybeau

Advertisements

2 thoughts on “Pemberian

  1. hhmm..Beauty for Killing ya..hpi sih sebenarnya kurang suka juga baca2 novel yang hedonis kayak gitu..Menurut hpi, moral yang disampaikan terlalu tertutupi dengan galmournya kehidupan. Tapi untuk urusan branded stuff, ini yang tidak bisa dipungkiri. Mungkin dari point of view orang-orang yang penghasilannya belum memadai, membeli branded stuff dengan harga yang di luar ambang batas jangkauannya terlihat seperti menghamburkan uang atau apalah. Tetapi tidak demikian dengan orang yang berlebihan segalanya. Bagi mereka yang mempunyai kelebihan pundi pundi pundi pundi keuangan mengannggap itu hanyalah secuil pengeluaran yang ‘remeh’. Banyak orang menganggap : “what you wear is who you are” dan ini benar untuk anggapan global. Tetapi ingatlah, itu tidak berlaku untuk semua orang (ex: Bob Sadino yang notabene pengusaha sukses, tapi ke mana-mana selalu cuma pakai celana pendek dan kemeja lengan pendek plus sendal).

    Bicara perbandingan, menurut hpi, Beauty for Killing lawannya adalah 5cm yang juga bercerita tentang 5 orang sahabat dan intrik percintaan tapi sarat dengan pesan kehidupan. Tapi semua ada genrenya masing. Beauty for Killing sangat unik dengan semua cerita fakta dalam masyarakat kelas atas tetapi 5cm juga unik dengan dikemas dalam kesederhanaan.

    (hpi cakep huehuehue)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s