………!!!

Semenjak selesai dari sekolah SMA, saya mulai pisah kehidupan dengan kedua orang tua saya. Satu hal yang memang menjadi sebuah keinginan tetap, yaitu merantau. Bukan karena tak senang dekat dengan orang tua, tetapi ada satu prinsip yang dari dulu saya pegang tentang sebuah penilaian diri.

“Semulia-mulianya mereka yang berada di kampung halaman, jauh lebih dimuliakan mereka yang jauh dari kampung halaman”

Tidak berarti yang berada dikampung halaman tidak baik, tetapi rasa ditunggui pulang kampung itu melebihi dari apapun. Apalagi sang ibu dirumah siap menanti dengan segala macam masakan untuk anaknya tercinta yang sebentar lagi pulang kerumah. Walaupun kehidupan di rantau itu tidak jauh lebih baik dari kampung halaman sendiri. Beberapa kota besar seperti Medan dan Jakarta pernah terjamah untuk mengais segenggam rejeki. Sebuah pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan nilai rupiah. Namun, ibu dirumah dalam keadaan sakit-sakitan, rasanya tak cukup baginya hanya mendengarkan suara anaknya melalui telepon. Meninggalkan karir yang sedang dibangun demi Beliau yang lebih membutuhkan anaknya tetap berada disamping.

Namun tuhan sepertinya berkata lain, pengorbanan yang ku lakukan belum cukup, sehingga ibuku diambil kembali kepangkuanNya. Andai bisa ku bertanya apa mauNya? Genap sudah satu minggu ibunda pergi menghadap sang Khalik penciptanya. Rumah tak ada lagi ocehannya, sepi akan omelannya, tak ada yang membangunkan aku dipagi hari, atau menghubungiku jika belum pulang larut malam. Rasanya air mata yang bercucuran setiap kali memikirkannya atau melihat fotonya dirumah itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa pedih dihati.

Satu pelajaran penting yang bisa kuambil dari kejadian ini adalah sebuah kesetiaan. Sang ayah yang selama ini dikeluarga terkenal cuek, pendiam, dan terkesan tidak peduli serta hanya ingin membahas yang penting-penting saja. Jikapun ingin bercanda itu hanya terjadi atas pancingan sang ibu. Namun selama ibu kritis dan dirawat di Rumah Sakit, sebentar pun beliau tak mau meninggalkan ibu yang tertidur tak berdaya sejak Desember tahun lalu. Bahkan untuk mandi saja harus dipaksakan meninggalkan ruangan tempat ibu di Rawat. Setiap malam beliau mengelus-elus rambut ibuku hanya supaya sang ibu tertidur pulas dan bisa sembuh ceria esoknya. Memapahnya ke kamar mandi, sampai membersihkan kotoran ibuku. Sekarang rasanya ingin bunuh diri jika melihat ayah diam, seolah sedang berfikir juga, apakah pengorbanannya juga tidak cukup untuk menyembuhkan ibuku sehingga dia harus kembali ke Tuhannya?

7 hari sudah berlalu, keramaian pengunjung dirumah pun telah berakhir. Kesunyian seperti apa yang akan kami hadapi tanpa ibu dirumah akan segera kami nikmati bersama. Entah berapa banyak air mata lagi yang akan tumpah dirumah itu jika mengingat satu-satunya perempuan dirumah kami telah tiada. Entah sama siapa aku mengeluh jika aku terpuruk nanti dan membutuhkan usapan tangan ibu. Entah bagaimana cara mengekspresikan sebuah kebahagiaan yang kelak akan aku dapatkan,sementara tempat berbagi kebahagiaan itu telah pergi. Entah siapa yang akan peduli pada ku dan adikku nanti, sementara alasan orang-orang peduli padaku selama ini karena ibu disampingku. Entahlah…..

Aku cuma berharap, ibu bisa hadir disetiap mimpi ku. Bisa kan harapan ku dikabulkan? diantara setumpuk harapan lainnya, hanya ini yang saya mau untuk dikabulkan secepatnya dan sesering mungkin.

Semoga engkau istirahat dengan tenang ya bu, dan siksa kubur jauh dari mu sampai kiamat datang.

“Almarhumah Asniati binti Muhammad Zein”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s