Trip Buaya

Hari minggu datang, rencana udah numpuk pengen kemana-mana. Ada yang batal, ada juga yang dibatalin. Huff….kesel udah diubun-ubun, untung ada kamu yang tiba-tiba ngajakin jalan dan berujung ke kandang buaya! huwaaaaaa aku dikelilingi buaya darat :s. (identitas si “kamu” sengaja disembunyikan, muehehehe).

Baru nyampe di pintu gerbang aja, udah diselimuti aroma buaya dan ornamen buaya, untung kamu bukan buaya (identitas kembali disembunyikan). Oh iya, saya dan doi kali ini jalan-jalan ke Penangkaran Buaya Asam Kumbang di daerah Medan. Tepatnya di  Jalan Bunga Raya II Kota Medan, Sumatera Utara. Sebagai navigasinya, kalian bisa menuju Sunggal, lalu masuk jalan Kasuari, disusul jalan Merak, lurus aja, sampe ketemu lampu merah dan lurus lagi masuk ke jalan Amal sampe ketemu persimpangan menuju ke Pinang Baris, nama jalannya Tirta Nadi, Lalu belok kiri, atau kalau uda bingung, tepat dijalan itu tanya aja sama ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan, arah tempat penangkaran buayannya di mana, ntar pasti ketemu kok. Tepat di pinggir jalan sebelah kiri, memang ada pintu masuk dengan gapura gede dan ada lambang buayanya.  Konon katanya sebagai tempat penangkaran buaya terbesar di Indonesia. Gimana engga, luasnya aja 2 Hektar, dan isinya buaya hidup sebanyak 2.800 ekor, dan ini milik keluarga Lo Than Muk.

Isinya beragam, mulai dari buaya tertua dan terbesar disini sampai yang terkecil. Yang tertua umurnya aja uda 39 Tahun, dan kalau kalian ngatain saya si tubuh bohay? salah besar, si buaya ini lebih besar 3 kali dari badan saya. cukup untuk melahap sekaligus bodi semok ini dan lalu buayanya tidur sampai setahun ga makan-makan. (coba dibayangkan sodara-sodara).

Selain yang gede gitu, ada juga si buaya tua, hidupnya mungkin penuh kesialan. Udah badannya kecil, ekornya buntung pula. Padahal umurnya udah 22 tahun, dan masih idup sampe sekarang. Tapi walaupun tua dan buntung, bukan berarti bisa diganggu, tetap aja cengkeraman gigi buaya itu bahaya, walaupun buntung. Paling bedanya bagus atau ngganya diliat aja.

Gak lengkap kan rasanya kalau ga foto bareng sama buayanya sendiri? Kebetulan hari kami berkunjung, pelajar asal Amerika yang sedang studi kasus di Medan, juga ada di sana dan ikutan mejeng bareng buaya. Gausah takut, ada pawangnya kok. nih….

Dan untuk para buaya yang jumlahnya ribuan ekor ini, tiap hari dikasi bangkai bebek dan ayam. Biaya makan para buaya lapar ini didapat dari kutipan biaya masuk sekitar 6000 rupiah saja per orang, dan juga dari kandangnya langsung. Di belakang area penangkaran, ada kandang bebek yang diisi puluhan bebek dengan masa hidup tak lama, kasian :(. Pemilik tempat ini juga miara ular gede banget. Ini kunjungan penuh aroma menjijikkan tapi sekaligus takjub kali ya? bisa liat buaya super gede, dan juga ular yang ga kalah gedenya. Ularnya ada beberapa ekor, bersebelahan dengan kandang bebek. Silap-silap si bebek juga jadi lahapan si uler nih.

Dan juga ada ribuan lain buaya, yang bikin bulu kuduk bangun dengan liatin mulutnya yang menganga dan giginya yang tajem-tajem itu. hiii…. selain dikandangin, buaya juga dilepas gitu aja dalam danau yang ada di samping tempat penangkaran. Bisa dibayangkan kalau keseret dalam danau itu, jadi santapan enak banget nih! buayanya nyengir lebar.

Berhubung udah siang, dan kami datengnya salah waktu, yang kepikiran cuma makan, makan dan makan! soalnya kalo mau liat si buaya dikasih makan, pengurusnya bilang, harusnya datang pagi atau sore, itu waktunya buaya-buaya laper itu makan. Seru aja kan ayam idup dilemparin, trus diterkam hap! gpp deh, lain waktu kalo ada kesempatan bakal main lagi kesini 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s