Maulid di Adat Meulaboh – Aceh Barat.

Bulan yang paling ditunggu-tunggu dan paling seru bagi anak-anak. Masa-masa yang sudah lama saya tinggalkan, karena usia semakin bertambah. Di Aceh, selain bulan ramadhan, bulan maulid adalah bulan paling meriah dan dirayakan di seluruh pelosok kampung dan perkotaan. Dan bagi saya, perayaan ala kampung itu jauh lebih asik dan meriah, serta penuh makna.

di Aceh ada 3 masa maulid, yang dilaksanakan selama 3 bulan berturut-turut. Dan khususnya di Aceh Barat, setiap desa dan kelurahan saling memberi kabar, kapan akan melaksanakan maulid di kampungnya. Karena ada adat saling mengundang kampung tetangga untuk bersalawat kepada nabi Muhammad SAW, dan juga saling menjamu desa tetangga dengan berbagai makanan nikmat. Terlebih nasi minyak yang belakangan mulai langka dan tak banyak yang mau membuatnya. Dan perihal saling memberi kabar jadwal perayaan maulid ini juga bertujuan, agar tidak ada dua kampung yang melaksanakan maulid pada hari yang sama. Tiap kampung bebas untuk memilih bulan maulid mana yang akan dipilih, apakah “maulid awai”, “maulid teungoh” atau “maulid tulot”, yaitu pelaksanaan maulid di bulan awal, tengah dan akhir.

Semua rumah, mulai tercium bau harum, dan selama 3 bulan berturut-turut, semua manusia dari segala kalangan akan merasakan nikmatnya ayam goreng atau menu-menu enak lainnya. Salah satu momen yang membuat saya ingin menangis, karena orang yang membuat rumah saya harum akan aroma makanan enak sudah tiada. Ah, skip that part~

Pemuda kampung tetangga diundang untuk hadir pada jamuan makanan enak, dan juga untuk beramai-ramai bergembira akan peringatan lahirnya nabi tercinta. Pada hari ini semuanya tersenyum lebar, dan masing-masing kampung sudah siap dengan sajak salawat dan juga gerakan kompak mereka. Dan ini juga bagian yang saya tunggu dari perayaan maulid. Semua kampung yang hadir dalam undangan berusaha menjadi yang terbaik, dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat kampung yang mengundang. Tidak ada hadiah memang, namun kepuasan didapat begitu saja, ketika kelompok kampung tertentu mendapat penonton paling banyak.

DSC03513

DSC03494

Sambil mendengar para warga undangan berselawat, para pemuda kampung yang mengadakan hajatan maulid pun siap dengan hidangan makanan yang sudah dikumpulkan dari warga, dan disatukan dalam sebuah “idang”.

DSC03500

DSC03499

DSC03502

DSC03507

DSC03505“idang” ini isinya adalah segala jenis makanan enak layak konsumsi dan sudah ditunggu oleh para undangan. Jarang bisa menikmati makanan seperti kolak dan kawan-kawan jika bukan di bulan Maulid. Hiasan “idang” juga bermacam-macam. sang tuan rumah juga saling berlomba dalam menghias “idang” mereka dengan segala macam tenunan khas aceh. Ada banyak “Kain Kasab” yang ditenun dengan jenis bunga aceh dan lain-lain.

DSC03516Masing-masing kampung ada satu kepala suku, yaitu tengku setempat yang memimpin jalannya nyanyian solawat serentak untuk Nabi Muhammad. Penampakan yang cukup seru untuk dinikmati hingga acara pembagian isi “idang” pada semua undangan.

DSC03537Solawat selesai, dan semuanya mulai berdoa serentak sebelum menikmati hidangan lezat sehari, dan akan berlangsung selama 3 bulan berturut-turut.

DSC03512“idang” mulai diangkat oleh pemuda kampung setempat, dan seluruh undangan juga sudah siap di tempat masing-masing. Yang paling asik diliat adalah, semangatnya anak-anak ini untuk menunggu nasi bungkus dan lauk yang menggoyang lidah.

DSC03566

Satu “idang” biasanya cukup untuk 10 manusia, bahkan isinya bisa berlebih. Satu anak bisa saja mendapatkan 3 potong ikan, 3 potong ayam goreng, 2 ayam gulai, dan kolak 2 bungkus ditambah dengan beberapa isi idang lain yang cukup menggoyahkan iman. Trus bagaimana dong dengan saya yang mungkin berasal dari kampung yang agak jauh dan tidak masuk ke dalam list undangan? biasanya kita akan disuruh bergabung dengan kumpulan para undangan dan duduk manis menanti makanan isi idang yang akan dibagi. Intinya pada hari maulid semua orang senang dan semuanya tidak ada yang pulang dengan kecewa karena tidak mendapatkan nasi maulid.

DSC03567

DSC03582

DSC03586Lalu, bagaimana dengan anak-anak kampung lokal yang mengadakan hajatan maulid? mereka ga dapat isi “idang”? tentu saja dapat, dan biasanya ada 3 idang yang dipisahkan dari total idang yang diberikan masyarakat kampung untuk dibagikan bagi ibu-ibu atau anak-anak yatim lokal. Seperti yang saya katakan tadi, tidak ada yang pulang dengan kecewa karena tidak mendapatkan nasi maulid. Rame-rame rebutan nasi? pemandangan yang juga sangat menyenangkan, tertawa bersama di halaman mesjid.

DSC03509

DSC03588Ah, jadi ga sabar untuk menunggu maulid tahun depan, dan saya juga akan siap untuk datang ke setiap desa untuk melihat meriahnya suasana maulid di sana dan sebungkus nasi maulid (biasanya satu orang akan membawa pulang minimal 3 bungkus, karena isi idang yang berlimpah).

Note: Salawat maulid mulai sebelum Ashar, dan berhenti sejenak, lalu sambung setelah ashar, dan pembagian nasi maulid sekitar pukul 5 sore sampai dengan selesai.

Advertisements

7 thoughts on “Maulid di Adat Meulaboh – Aceh Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s